Haiii, sudah lama sekali aku tidak menulis, sampai rasanya hampir lupa bagaimana caranya merangkai kata. Tapi kali ini aku ingin menyimpan cerita ini –agar suatu hari nanti, mungkin bertahun-tahun dari sekarang, aku masih bisa kembali membacanya dan mengingat perjalanan ini.
Beberapa tahun terakhir terasa seperti rangkaian kehilangan yang datang tanpa jeda. Satu per satu orang yang begitu dekat dalam hidupku pergi –Papa, seseorang yang pernah kucintai, juga beberapa teman yang dulu terasa begitu berarti. Semuanya terjadi hampir bersamaan, seolah hidup tiba-tiba menarik begitu banyak hal dariku sekaligus. Tapi yang paling sulit adalah ketika Papa pergi. Sampai sekarang pun, rasanya masih sulit dijelaskan. Ada ruang kosong yang tidak pernah benar-benar bisa terisi lagi. Aku sering bertanya-tanya bagaimana seharusnya aku menjalani hidup setelah itu. Rasa rindu datang hampir setiap saat –tiba-tiba saja muncul di tengah hari yang biasa. Tapi yang bisa kulakukan hanya mendoakan, karena tidak ada lagi kesempatan untuk melihat wajahnya, mendengar suaranya, atau sekadar berbagi cerita seperti dulu.
Di luar, hidupku tetap berjalan seperti biasa. Aku masih bisa tertawa, walau dipaksa. Seolah aku sedang memainkan peran agar semuanya terlihat baik-baik saja. Karena ketika aku sendirian, suasananya sangat berbeda. Ada banyak malam ketika yang kupikirkan hanya ingin tidur... dan tidak ingin bangun lagi.
Awalnya aku tidak pernah benar-benar menceritakan semua itu pada siapa pun. Setiap kali ada yang bertanya bagaimana keadaanku, jawabanku selalu sama: aku baik-baik saja. Padahal sebenarnya, kesedihan itu tidak pernah benar-benar mendapat ruang. Tidak pernah tervalidasi. Aku hanya menumpuknya perlahan di dalam hati, seolah dengan menyimpannya sendiri, semuanya akan terasa lebih mudah untuk dijalani.
Karena terlalu lama memendam semuanya sendiri, ada saat-saat di mana perasaan itu akhirnya tidak lagi bisa ditahan. Aku bisa tiba-tiba meledak –emosi yang selama ini kupendam keluar begitu saja, tanpa arah. Tapi setelah semuanya mereda, yang tersisa justru rasa bersalah. Aku sering duduk diam, merenungi apa yang baru saja kulakukan, bertanya-tanya mengapa aku bisa menjadi seseorang yang begitu berbeda dari diriku yang dulu.
Hari demi hari, aku merasa semakin jauh dari diriku sendiri. Aku mulai takut pada banyak hal –takut salah, takut membuat orang lain kecewa, takut ditinggalkan lagi. Emosiku terasa seperti sesuatu yang tidak lagi bisa kuatur dengan baik. Hal-hal kecil bisa terasa sangat berat, sementara hal-hal yang dulu membuatku bahagia perlahan kehilangan tempatnya dalam hidupku.
Aku yang dulu tidak pernah ragu membagikan potongan kecil kehidupanku di media sosial, perlahan memilih untuk menarik diri. Kesenanganku dalam menulis, melukis, membaca, mengedit foto perlahan ku tinggalkan. Bahkan sekedar berfoto selfie pun aku enggan. Tanpa kusadari, banyak hal kecil ikut berubah. Pilihan bajuku yang dulu penuh warna pelan-pelan digantikan oleh warna-warna gelap. Aku lebih sering menyendiri, menjauh dari sekitar.
Akhirnya aku memutuskan untuk mencari bantuan. Aku menemui seorang psikolog. Di sana, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bisa menceritakan begitu banyak emosi yang selama ini terpendam –kesedihan, kehilangan, kebingungan yang tidak pernah benar-benar kuucapkan sebelumnya. Tapi anehnya, di hari-hari setelahnya, perasaan khawatir itu masih sering datang. Kadang aku bertanya-tanya pada diriku sendiri:
Mungkinkah jauh di dalam hatiku masih ada bagian kecil yang sebenarnya belum siap untuk benar-benar sembuh? Mungkin ada luka yang masih terlalu takut untuk dilepaskan.
Sering kali aku juga ingin mengeluh lebih banyak. Tapi kemudian aku berpikir lagi, dan rasa itu berubah menjadi malu. Di luar sana ada begitu banyak orang yang mungkin menghadapi masalah yang jauh lebih berat, tapi mereka tidak berisik. Dibandingkan mereka, keluhanku terasa kecil.
Namun satu hal yang selalu kuingat: meskipun kepalaku kadang terasa sangat riuh dengan pikiran-pikiran gelap, dengan keinginan untuk mengakhiri semuanya, sampai hari ini aku masih memilih untuk tetap ada di sini. Untuk tetap bertahan, meski pelan. Untuk tetap hidup, meski belum sepenuhnya tahu ke mana arah langkahku selanjutnya.
Setelah perjalanan yang terasa begitu panjang, perlahan aku mulai menemukan kembali hidupku. Tidak sekaligus, tidak juga dengan cara yang dramatis. Semuanya datang sedikit demi sedikit, seperti cahaya pagi yang pelan-pelan masuk lewat celah jendela. Aku mulai belajar lagi dari awal –bahwa tidak apa-apa untuk terlihat sedih. Bukan agar dikasihani, bukan pula untuk mencari perhatian, tapi agar aku tetap mengenal diriku sendiri.
Setelah begitu banyak kehilangan, setelah sekian lama menutup diri dari dunia luar dan mengunci hati rapat-rapat dari siapa pun yang mencoba mendekat, untuk pertama kalinya aku berani mencoba lagi. Dengan seseorang yang sebenarnya sudah ku kenal lama, yang selalu hadir di dalam hidupku bertahun-tahun lamanya. Dia bukan orang yang tiba-tiba datang dari tempat yang jauh. Justru sebaliknya –dia selalu ada di sekitar kehidupanku. Kadang terasa dekat, kadang menghilang seperti bayangan yang samar. Kehadirannya naik turun, tapi tidak pernah benar-benar hilang. Dan sebenarnya, aku selalu menyadari keberadaannya.
Bahkan mungkin, sejak lama dia sudah mencoba mencari jalan untuk kembali masuk ke dalam hidupku. Hanya saja, setiap kali kesempatan itu muncul, aku yang justru menyangkalnya. Aku yang menutup pintu itu lebih dulu. Aku menahan langkahnya, seolah-olah aku tidak melihat niat baik yang perlahan dia bawa.
Mungkin karena aku takut. Takut bahwa semua yang kurasakan hanyalah perasaan sepihak. Takut bahwa apa yang kuanggap sebagai intuisi hanyalah harapan yang kubuat sendiri. Aku khawatir jika aku membuka pintu itu terlalu cepat, ternyata dia sebenarnya tidak benar-benar ingin kembali. Dan mungkin, bentuk pertahanan diriku saat itu adalah dengan terus menyangkalnya –dengan menjauh, dengan berpura-pura tidak melihat.
Namun waktu berjalan, dan dia tetap ada di sana. Dengan caranya sendiri, dengan usahanya yang pelan tapi konsisten. Sampai akhirnya suatu hari dia datang kembali, kali ini bukan dengan kehadiran yang samar, melainkan dengan sebuah kejelasan. Ketika dia mengutarakan maksudnya, aku tidak lagi menahannya. Tidak lagi berpura-pura tidak melihat. Dengan hati yang jauh lebih tenang dari sebelumnya, aku menerimanya kembali. Aku mempersilahkannya masuk ke dalam hidupku.
Atau mungkin, jika aku jujur pada diriku sendiri, sebenarnya aku sudah menunggu momen itu sejak lama.
Setelah begitu lama berjalan dalam duka yang terasa tidak ada habisnya, akhirnya aku menemukan kembali kebahagiaanku. Dan yang membuat semuanya terasa lebih hangat adalah kenyataan bahwa aku tidak harus memulai semuanya benar-benar dari awal. Kami sudah saling mengenal begitu lama –cukup lama untuk memahami banyak hal tentang satu sama lain.
Dari sana, perlahan mulai terbentuk harapan-harapan kecil tentang masa depan. Tentang kemungkinan berjalan bersama, kali ini dengan langkah yang lebih pasti.
Namun, yah, pada akhirnya aku kembali diingatkan pada satu hal yang sederhana: sebaik-baiknya tempat berharap memang hanya kepada Tuhan, bukan kepada manusia. Manusia bisa datang dengan niat yang baik, dengan usaha yang terlihat begitu besar, tapi tetap saja manusia memiliki batas –bisa berubah, bisa ragu, bisa memilih jalan yang berbeda.
Di antara kami sebenarnya tidak pernah ada satu peristiwa besar yang tiba-tiba meruntuhkan semuanya. Hanya perbedaan-perbedaan kecil yang perlahan terasa semakin jelas: perbedaan pendapat, cara pandang, prinsip, dan juga batasan. Hal-hal yang mungkin terlihat biasa dari luar, tapi ternyata cukup untuk membuat dua orang yang sempat berjalan bersama akhirnya harus berhenti di titik yang berbeda.
Dan ironisnya, orang yang sempat kupikir akan menjadi akhir dari perjalanan ini justru harus berakhir lebih dulu. Dia pergi tanpa benar-benar memberi kejelasan, apalagi penjelasan. Awalnya sulit sekali untuk menerima hal itu. Ada banyak pertanyaan yang tertinggal, banyak kalimat yang tidak sempat dijawab. Tapi mungkin memang seperti ini yang terbaik, meskipun hatiku belum sepenuhnya mengerti alasannya.
Perasaan tidak terima tentu saja ada. Terlebih ketika aku mengingat bagaimana dulu dia berusaha begitu lama untukku. Bertahun-tahun. Namun kenyataannya, aku bisa digantikan begitu cepat oleh seseorang yang datang setelahnya. Fakta itu terasa pahit, seperti menyadarkan bahwa mungkin selama ini aku terlalu percaya diri –terlalu yakin bahwa aku begitu spesial dalam hidupnya.
Aku marah. Aku kecewa. Aku sedih.
Dan kurasa itu sangat manusiawi. Siapa yang akan baik-baik saja setelah kehilangan, kan?
Kadang aku bertanya-tanya, apakah mungkin ini cara Tuhan menyelamatkanku? Atau mungkin ini cara Tuhan menegurku dengan lembut, memanggilku kembali, agar aku ingat bahwa harapan tidak seharusnya digantungkan pada manusia. Bahwa tempat berharap yang paling aman hanyalah kepada-Nya.
Yang membuat semuanya terasa lebih berat adalah kenyataan bahwa aku baru saja sembuh dari luka lama itu. Aku baru saja memberanikan diri membuka hati lagi setelah sekian banyak kehilangan. Dan kehilangan kali ini terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.
Karena bukan saja menimbulkan luka baru, tapi juga seperti menggores kembali bekas luka lama yang bahkan sisanya saja masih terasa. Rasanya seperti jatuh kembali ke tempat yang sama, tapi dengan rasa sakit yang lebih tajam, padahal aku baru saja belajar berdiri kembali. Aku benar-benar terpuruk, seperti terperosok lebih dalam dari yang pernah kurasakan sebelumnya.
Namun untuk kesekian kalinya, selalu ada hal kecil yang masih bisa kusyukuri. Kali ini aku tidak lagi memaksa diriku untuk terlihat baik-baik saja. Aku tidak lagi berpura-pura kuat. Aku menerima rasa sakit itu apa adanya –menerima kecewanya, menerima sedihnya, membiarkan semuanya hadir tanpa harus disangkal, memilih untuk merasakannya sepenuhnya sambil perlahan mencoba memetik pelajaran dari apa yang terjadi. Meskipun itu berarti aku harus memulai lagi dari awal, kembali berjalan di proses penyembuhan yang pernah kukira sudah selesai.
Ada saat-saat di mana rasanya aku hampir kehilangan kewarasan. Tapi satu hal yang berbeda kali ini: aku tidak kehilangan keinginan untuk hidup.
Namun di perjalanan kali ini, ada satu hal yang membuatku jauh lebih bersyukur: aku akhirnya benar-benar menyadari bahwa aku tidak sendirian. Ada begitu banyak orang yang menyayangiku. Keluarga yang selalu ada dan begitu suportif. Teman-teman yang tidak pernah keberatan ketika aku mengganggu mereka kapan saja –entah hanya untuk diajak keluar sebentar agar pikiranku terdistraksi, atau sekadar duduk bersama sambil mendengarkan ceritaku yang itu-itu saja sambil menangis.
Untuk kalian semua yang sudah sabar mendengarkan, yang tetap tinggal di sampingku ketika aku sedang tidak baik-baik saja –terima kasih banyak ya. Sungguh.
Love you all, a lot.
Belakangan ini aku mencoba mengisi hari-hariku dengan banyak kegiatan. Hampir seperti sedang belajar hidup lagi dari awal. Bahkan aku mulai melakukan hal yang selama ini paling kuhindari: olahraga. Anehnya, kali ini justru terasa menyenangkan. Kalau kata orang, biasanya orang yang patah hati bisa tiba-tiba jadi atlet, mungkin itu benar adanya.
Selain itu, aku juga mencoba banyak hal baru. Ikut kegiatan volunteer, mencoba olahraga menembak, berjalan-jalan ke tempat-tempat baru, dan masih ada banyak hal lain dalam daftar yang ingin kucoba satu per satu. Rasanya seperti sedang membuka banyak pintu yang dulu tidak pernah sempat kulihat.
Tapi dari semua hal yang terjadi setelah kehilangan ini, ada satu hal yang paling membuatku bersyukur: akhirnya aku menemukan kembali diriku yang sempat lama hilang.
Perlahan aku kembali ke hal-hal yang dulu sangat kusukai. Aku mulai muncul lagi di media sosial yang sempat lama kutinggalkan. Memang belum seberani dulu untuk membagikan banyak hal, tapi setidaknya sekarang aku tidak lagi terlalu memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang apa yang kubagikan.
Aku juga mulai menulis lagi –seperti sekarang ini. Mulai melukis lagi dan akan mulai membaca juga mengoleksi banyak buku lagi seperti sebelumnya –walaupun rak bukuku saat ini sudah tidak muat sih.
Tapi mungkin memang begitu rasanya ketika seseorang mulai menemukan dirinya kembali. Hal-hal kecil yang dulu terasa biasa saja, kini terasa seperti pulang.
Di tengah usahaku merapikan hati yang berantakan, aku tidak pernah benar-benar berniat menemukan siapa pun. Hari-hariku hanya diisi dengan mencoba berdamai –dengan kenangan, dengan kehilangan, dan dengan diriku sendiri. Lalu, entah bagaimana, seseorang tiba-tiba muncul. Bahkan awal percakapan kami pun terjadi karena sebuah ketidaksengajaan kecil yang nyaris tidak berarti. Tapi dari obrolan yang sederhana itu, entah sejak kapan, kami jadi sering berbincang.
Suatu hari, dia menawarkan sesuatu yang terdengar sangat biasa: menemaniku berolahraga. Hanya jalan santai mengelilingi kebun raya sepulang kerja. Sesederhana itu. Selain itu, aku punya kebiasaan pergi sendiri apalagi ketika hatiku sedang tidak baik-baik saja –naik kereta hanya berputar dari satu stasiun ke stasiun lain, menikmati waktu sendirian tanpa perlu berbicara dengan siapa pun. Tapi anehnya, orang ini justru bersedia menyusulku ke sana. Seolah perjalanan kecil itu layak untuk dikejar.
Dia tahu aku belum sembuh. Dia tahu luka itu dalam, dan masih sangat baru. Aku tidak pernah menyembunyikan itu darinya. Mungkin karena sejak awal aku memang tidak berniat membangun apa-apa. Jadi aku bercerita apa adanya –tentang masa lalu yang masih menghantuiku, tentang seseorang yang masih sering muncul di kepalaku.
Beberapa kali aku pergi berjalan seperti biasa, dan hampir setiap kali juga dia menawarkan diri untuk ikut membersamai. Padahal dia tahu betul apa yang biasanya terjadi di perjalanan-perjalanan itu: aku menangis. Aku bercerita panjang tentang seseorang dari masa laluku. Tentang kenangan yang belum selesai. Tentang luka yang bahkan aku sendiri belum tahu kapan akan benar-benar sembuh. Dan selama itu, dia hanya mendengarkan. Dengan tenang. Tanpa menyela, tanpa mencoba memperbaiki ceritaku, tanpa memaksakan nasihat yang tidak kuminta. Dia hanya ada di sana –mendengarkan dengan sabar, seolah semua ceritaku layak untuk didengar sampai habis.
Tanpa benar-benar kusadari, jarak di antara aku dan dia perlahan memendek. Percakapan yang dulu terasa kebetulan kini menjadi sesuatu yang hampir selalu kutunggu, entah sejak kapan kita terasa lebih dekat dari yang seharusnya. Dan justru di titik itu, aku mulai merasa takut. Beberapa kali aku mencoba mundur selangkah. Menjauh sedikit, memberi jarak yang kupikir perlu. Bukan karena aku tidak menghargai kehadirannya, tapi karena semuanya terasa terlalu cepat untukku. Hati yang baru saja patah biasanya belum pandai mempercayai hal-hal baru. Aku takut memulai sesuatu ketika aku sendiri belum benar-benar selesai dengan masa lalu.
Ada banyak hal yang membuatku ragu. Aku takut masih ada bagian dari hatiku yang tertinggal di tempat lama. Aku takut pada kemungkinan –pada harapan yang mungkin kembali tumbuh, lalu patah lagi seperti sebelumnya. Namun anehnya, setiap kali keraguan itu muncul, setiap kali aku mencoba menyangkal apa yang sedang terjadi di antara kami, dia hanya menjawab semua kekhawatiranku dengan cara yang sangat tenang. Satu per satu. Dengan kata-kata yang jelas, sederhana, dan tidak berusaha terdengar meyakinkan secara berlebihan. Seolah dia tahu bahwa yang kubutuhkan bukan janji besar, melainkan ketenangan. Dan di tengah semua keraguan yang berisik di kepalaku, cara dia menjawab semuanya justru terasa seperti sesuatu yang... menenangkan?
Ada satu hari yang terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Bukan karena sesuatu yang besar terjadi, melainkan karena untuk pertama kalinya pikiranku terasa lebih jernih. Seperti ada sesuatu yang akhirnya selesai di dalam hati. Aku mulai melihat masa lalu itu dengan lebih tenang –tanpa amarah, tanpa juga rasa ingin kembali. Aku sadar bahwa mungkin memang begitulah jalannya. Mantanku bukan seseorang yang buruk, begitu juga aku bukan seseorang yang sepenuhnya benar untuknya. Kami hanya dua orang yang pada akhirnya tidak saling cocok untuk berjalan lebih jauh. Dari situ, entah bagaimana, perlahan aku mulai membuka ruang untuk sesuatu yang baru, untuk seseorang yang ada ketika aku masih sibuk merapikan luka yang lama. Aku tidak ingat persis kapan keyakinan itu datang, tapi aku tahu rasanya berbeda.
Semakin banyak waktu yang kuhabiskan bersamanya, semakin aku menyadari hal-hal kecil yang dulu tidak pernah kudapatkan. Batasanku dihargai. Sesuatu yang dulu terasa sulit dimengerti oleh masa laluku, kini terasa begitu natural baginya. Ketika aku merengek, dia memelukku. Ketika aku marah, dia tidak melawan amarah itu –dia menenangkannya. Cara dia merespon setiap emosiku tidak pernah membuatku merasa seperti beban yang harus ditanggung. Dia juga bukan tipe orang yang mengucapkan maaf hanya agar semuanya cepat selesai. Ketika dia meminta maaf, dia tahu persis maaf itu untuk apa. Bukan sekadar formalitas agar aku berhenti merajuk, tapi benar-benar sebuah pengakuan bahwa dia memahami apa yang salah.
Biasanya aku terbiasa melakukan hampir semuanya sendiri. Sekarang, hal-hal kecil yang bahkan terasa sepele pun tiba-tiba terasa menyenangkan untuk dibagi. Sekadar jajan cilor saja, aku ingin ditemani. Dan anehnya, dia selalu ada untuk hal-hal kecil seperti itu.
Cinta kali ini terasa berbeda. Tidak berat, tidak memaksa, tidak membuatku harus berlari mengejar sesuatu yang tidak pasti. Rasanya ringan, seperti mengalir begitu saja, tapi jelas.
Tentu saja, bukan berarti semuanya selalu berjalan mulus. Perbedaan pendapat tetap ada. Emosi kadang datang tanpa diundang. Beberapa kesalahpahaman juga pernah muncul di antara kami. Tapi yang membuat semuanya terasa berbeda adalah cara dia meresponnya. Dan di situlah aku mulai sadar –bahwa mungkin, cinta yang sehat memang tidak selalu tentang tidak pernah bertengkar. Tapi tentang bagaimana dua orang memilih untuk tetap saling menenangkan, bahkan ketika keadaan sedang tidak baik-baik saja.
“Kita usahakan sama-sama ya, sayang. Biar jadi lebih baik lagi.” Katanya.
Kalimat itu diucapkan di akhir sebuah perdebatan yang sebenarnya tidak terlalu besar. Tapi entah kenapa, kata-kata itu terasa begitu lama tertinggal di kepalaku. Aku bingung, otak dan juga hatiku sebelumnya sudah bersiap kalau jawaban yang aku dapat akan sama seperti hubunganku sebelumnya, kalimat yang muncul tidak pernah jauh dari ini: “Apa lagi sih?”, atau “Kamu pantas dapat yang lebih baik.” Kadang juga yang terdengar seperti bentuk kerendahan hati yang sebenarnya hanya cara lain untuk menyerah: “Aku merasa gak pantes buat kamu,” atau “Aku pikir aku sudah cukup baik buat kamu.” Dan hampir selalu, semuanya berujung pada hal yang sama –aku ditinggalkan.
Karena itu ketika dia mengatakan kalimat sederhana itu, aku sempat bingung. Kenapa kali ini berbeda? Kenapa tidak ada nada menyerah, tidak ada usaha untuk lari dari masalah? Justru yang ada adalah ajakan untuk memperbaiki semuanya... bersama-sama.
Dan entah sejak kapan, kekhawatiranku akan ditinggalkan perlahan mulai mereda.
Tapi kamu tahu apa yang sebenarnya paling menyenangkan dari hubunganku sekarang?
Aku mendapat feedback.
Kalau kata Tulus di lagunya:
“Jangan cintai aku apa adanya, tuntutlah sesuatu agar kita jalan ke depan.” Itu yang aku perlu.
Selama ini, aku selalu berusaha mengkomunikasikan hal-hal yang membuatku kurang nyaman dalam hubungan. Bagiku, komunikasi adalah cara untuk saling memahami. Tapi di hubungan sebelumnya, sering kali itu terasa seperti sesuatu yang berat untuk didengar. Kadang aku merasa seperti dianggap terlalu banyak menuntut. Atau mungkin, terlalu merepotkan.
Mungkin caraku menyampaikan juga tidak berkenan di hatinya, atau mungkin dia merasa dihakimi dengan caraku menyampaikan kepadanya? Tapi masalahnya, aku tidak pernah benar-benar tahu apa yang salah dari caraku. Tidak ada yang pernah benar-benar menjelaskan. Pria di masa laluku hanya mengiyakan semuanya, seolah tidak ada masalah –padahal mungkin sebenarnya ada. Tanpa alasan, tanpa penjelasan, tanpa ruang untukku memperbaiki diri.
Padahal aku tidak pernah menuntut seseorang menjadi persis seperti yang kuinginkan. Aku hanya ingin komunikasi. Jika ada yang kurang dari diriku, aku ingin tahu. Jika ada sikapku yang tidak mereka suka, beri tahu aku. Jika ada hal yang harus kuperbaiki, aku ingin mendengarnya. Karena bagaimana mungkin seseorang bisa bertumbuh jika dia tidak pernah tahu apa yang perlu diperbaiki?
Dan untuk pertama kalinya, kali ini aku mendapatkannya.
Dengan sangat lembut, dia mengatakan hal-hal yang selama ini tidak pernah aku dengar sebelumnya.
“Sayang, kalau untuk yang ini kayaknya aku belum bisa, karena begini... kalau begitu saja gimana sayang?”
Atau, “Sayang, menurutku kamu akan lebih baik kalau seperti ini... Karena ini dan itu, kalau bisa jangan begitu ya.”
Tidak ada nada menghakimi. Tidak ada kesan menyalahkan. Hanya penjelasan, alasan, dan juga masukan yang disampaikan dengan penuh perhatian.
Lengkap. Bahkan lebih dari yang pernah kuharapkan.
Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar didengar –dan pada saat yang sama, juga diajak untuk belajar menjadi lebih baik. Bukan sendirian, tapi bersama.
Kadang aku sampai bertanya pada diriku sendiri: harus bersyukur seperti apa lagi ya? Rasanya setiap hari selalu ada hal kecil yang membuatku ingin mengucapkan terima kasih. Dan entah kenapa, rasa syukur itu seperti tidak pernah terasa cukup.
Aku tidak tahu bagaimana cerita ini akan berlanjut. Mungkin masih akan ada hari-hari yang tidak mudah, mungkin juga akan ada kejutan-kejutan kecil yang tidak pernah kuduga sebelumnya. Tapi untuk sekarang, aku hanya ingin berjalan saja –pelan, tanpa tergesa. Karena setelah semua yang pernah terjadi, aku akhirnya mengerti satu hal: hidup tidak selalu tentang menemukan akhir yang sempurna, tapi tentang terus berani melangkah meski kita belum tahu persis ke mana jalan ini akan membawa kita. Semoga hal-hal baik terus membersamai kita semua.
Dengan Cinta, Auliadnr♡