"Menunggu itu menyakitkan, meninggalkan juga, tetapi lebih menyakitkan lagi, ketika kita tidak tahu harus menunggu atau meninggalkan"• • • • •
Menunggu memiliki banyak definisi, dan aku memiliki definisiku sendiri.
Menunggu bukanlah hal yang mudah, namun tidak bisa disebut sulit.
Aku menunggu, tapi tidak sendiri, tidak juga dengan oranglain, aku ditemani oleh diriku, setidaknya anggap saja seperti itu.
Menunggu sesuatu yang aku sudah tahu pasti tidak ada artinya lagi, namun, masih saja aku lakukan.
Aku selalu berdebat dengan diriku sendiri, apakah aku harus berhenti? atau menunggu lebih lama lagi? Dan aku selalu memilih untuk menunggu lebih lama lagi, namun diriku selalu memaksa untuk berhenti.
Ini bukan tentang kamu, namun tentang aku dan diriku, yang selalu memperdebatkan hal yang sama setiap harinya. Menunggu.
Menunggu itu pahit, menunggu itu menyakitkan, terlebih untuk sesuatu yang tidak diketahui pasti akhirnya, kata diriku.
Namun, aku sudah terbiasa dengan itu, lalu apalagi masalahnya, bukankah memang kita tidak pernah tahu akhir apa yang akan kita dapat dari menunggu, kataku.
Akhir dari menunggu merupakan rahasia waktu, sama seperti apa yang akan kita dapatkan esok hari, kita tidak akan pernah tahu.
Pun jika memang hasil yang aku dapatkan adalah kekecewaan, adalah ikhlas sebaik-baiknya penyembuh luka.
Percayalah, semua yang terjadi dulu, sekarang atau pun nanti telah diatur oleh Tuhan tanpa kesia-siaan, Ia mengatur segala sesuatu dengan alasan. Seperti yang seringkali aku ucapkan, setetes air maupun sehelai daun jatuh pun memiliki alasan dan manfaatnya.
Menunggu ini urusanku, masih memaksaku untuk berhenti? Tanyaku,
Belum lagi untuk saat ini, jawab diriku.
Aku bisa mengerti bagaimana diriku, namun diriku tidak bisa mengerti aku.
Lalu, siapakah aku dan diriku?
• • • • •
Auliadnr