Awalnya aku kira semuanya akan terasa biasa, enggak berharap akan menjadi luar biasa dan aku juga enggak berharap banyak. Aku kira, pada akhirnya gak akan seperti ini. Aku kira akan mudah untuk berhenti. Aku tidak berekspektasi akan menjadi senyaman ini.
Tapi setelah hampir setahun berlalu, kenapa menjadi semakin berat untuk berhenti? Semakin lama, semakin nyaman. Terlalu nyaman.
Kalian tau gimana rasanya kalau udah terlalu nyaman sama seseorang atau sesuatu? Sampai mau ngelepasinnya aja susah. Gak ikhlas.
Mau pindah, tapi hati masih stuck. Mau lanjut, tapi masih ragu, takut jadi beda. Mau berhenti, tapi gak ikhlas(?)
Semua karena terlalu sayang.
Iya, udah terlalu sayang sama ruangan paling ujung beserta isi-isinya, dan orang-orangnya.
Udah jadi rumah kedua, bahkan pertama. Ada kepentingan atau enggak tetep ke sana. Kalau telat masuk larinya ke sana. Tidur di sana. Sakit di sana. Nungguin abang-abang gojek nyasar di sana. Digangguin di sana. Ketawa di sana. Capek di sana. Ngejar-ngejar kwitansi di sana wkwk Segala macem hal di sana.
Udah jadi rumah kedua, bahkan pertama. Ada kepentingan atau enggak tetep ke sana. Kalau telat masuk larinya ke sana. Tidur di sana. Sakit di sana. Nungguin abang-abang gojek nyasar di sana. Digangguin di sana. Ketawa di sana. Capek di sana. Ngejar-ngejar kwitansi di sana wkwk Segala macem hal di sana.
Dulu sih kalau ditanya "tahun depan pilih mana?" Pasti aku jawab "pilih pintu tengah" tapi kalau sekarang ditanya "lanjut atau pindah pintu?" Kudu beribu kali mikir.
Orang-orang yang aku tanya, banyak yg ngasih masukan buat berhenti, kasian, keliatannya capek banget gitu katanya. Hm kalau dibilang capek mah pasti capek lah, ya kuliah juga capek. Cuma disamping itu ada kesenangan tersendiri, punya keseruan tersendiri, dan punya kenangannya sendiri, yg justru didapet dari si capek itu sendiri. Apa-apa sendiri wkwkwk apaansi. Cuma dibalik itu ada juga beberapa hal yg masih jadi pertimbangan.
Jadi, lebih baik lanjutkan atau akhiri?
Auliadnr
Auliadnr