2022
2022 is the worst. Aku kehilangan cinta pertamaku, Papa.
Meskipun enggak pernah bilang secara langsung how much we love each other, but I love him so much, dan aku tau Papa juga begitu mencintaiku, Mama dan Adikku. Tanpa Papa, hidupku limbung.
Kehilangan Papa di perjalanan meraih gelar profesiku, membuatku kehilangan arah. Papa menjadi pendukung nomor #1 untuk aku melanjutkan studiku, tapi tidak melihatku secara langsung ketika aku berhasil meraihnya. Padahal sebelum kepergian Papa, aku sempat minta "Tolong tunggu sebentar lagi, sampai aku diambil sumpah nanti. Papa mau liat aku diambil sumpah dan jadi apoteker kan? Seperti yang selalu Papa banggain ke semua orang", tapi Papa tidak pernah memenuhi permintaanku. Untuk pertama kalinya, papa tidak memenuhi permintaanku, dan juga untuk pertama kalinya Papa tidak hadir di momen penting dalam hidupku, juga awal ketidakhadirannya di momen penting hidupku selanjutnya.
Papa, tidak pernah memberiku hadiah berupa barang-barang mewah di hari spesial atau di hari ulangtahunku. Tapi, Papa selalu memberikan hadiah berupa kenangan yang jauh lebih berharga dari semua barang yang ada di dunia. Celakanya, kenangan berharga itu membuatku sulit untuk melepas kepergian Papa.
Pa, sampai detik ini, tiap kali aku mendengar suara motor yang mirip dengan suara motor Papa, aku masih berharap kalau itu Papa baru pulang kerja. Tapi nyatanya, Papa gak pernah pulang sebanyak apapun aku berharap. Bagaimana di atas sana, Pa? Indah ya? Bahagia ya? Ketemu sama Teh Tami dan Fatma juga? Nanti, kalau memang sudah waktunya kita kumpul lagi berenam, ya? Maaf ya, aku di sini masih sering nangisin Papa. Pa, ketika kehilangan Papa, semua orang bilang sama aku "yang kuat ya, jagain Mama, jagain Adik", lalu yang jagain aku siapa? Aku gak bisa menjadi kuat, Pa. Kehilangan Papa memang seberat itu, meskipun dihadapan orang lain terlihat baik-baik aja, tapi di dalamnya aku hancur, sehancur-hancurnya. Tapi, Papa enggak usah khawatir. Kalau Allah aja yakin kalau pundakku bisa menopang ini semua, aku juga yakin pasti bisa. papa bantu doain aku dari atas sana, ya? Aku juga gak akan berhenti kirim doa dari sini untuk Papa, Teteh dan Fatma.
2023
Aku kira 2023 akan sedikit lebih baik daripada 2022. Ternyata enggak.
Maret 2023, harusnya menjadi hari bahagia untukku, tapi nyatanya tidak sebahagia itu. Wisuda keduaku, pengambilan sumpah keduaku, kali ini tanpa Papa. Aku bisa membayangkan betapa bangganya Papa, juga bahagianya Papa kalau hadir di sana. Tapi, aku gak bisa lagi lihat ekspresi itu, seperti dulu.
Setelah ini, 2023 semakin bersikap buruk kepadaku. Kehilangan lagi, patah hati, dan pengkhianatan.
Aku tidak berharap banyak, semoga sisa tahun ini bisa sedikit bersikap baik kepadaku, semoga sisa tahun ini berkenan untuk memberikanku kebahagiaan, juga untuk kalian semua.
xoxo
-Auliadnr